Pembukaan Kegiatan Lima Aksi Nyata Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM)

Drs. H. Sahlan Masduki, M.Si Sebagai Asdep Pembinaan Umat Beragama, Pendidikan agama dan Keagamaan Kemenko PMK Sekaligus Ketua Yayasan Darul Irfan Membuka Secara Resmi Lima Aksi GNRM
peserta gerakan aksi nyata yang dilaksanakan di Yayasan Darul Irfan

Yayasan Darul irfan- Serang, Sabtu 04 Mei 2019.  Dalam rangka mewujudkan kemandirian Siswa/Santri, Yayasan Darul Irfan melaksanakan kerja sama dengan Kementerian Pembangunan Manusia Dan Kebudayaan mengadakan kegiatan Aksi Nyata Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). berupa kegiatan kemandirian siswa/santri Berupa;  Keterampilan Tatabusana, Keterampilan Tataboga, Membaca Kitab Kuning, Menulis Pegon dan kaligrafi untuk jenjang siswa MTs/SMP dan Aliyah/SMA/SMK dan Tingkat Perguran Tinggi yang ada di lingkungan Kota Serang Provinsi Banten.

Drs. H. Sahlan Masduki, M.SI. dalam sambutannya menegaskan bahwa berdasarkan inpres no 12 tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental adalah menjadi tanggung jawab kemenko PMK. Ada tiga pemikiran dasar dalam gerakan revolusi mental dimaksud yaitu integritas, etos kerja dan gotongroyong. Berdasarkan inpres no. 12 tersebut ada lima gerakan yang harus dilaksanakan oleh seluruh kementran dan lembaga, Gurbenur, Bupati dan Walikota di seluruh Indonesia, Termasuk lembaga swasta meliputi: Ormas, lembaga keagamaan, Pemuda termasuk pondo pesantren dan lain-lain harus turut membantu pemerintah untuk ewujudkan lima gerakan aksi nyata yaitu mewujudkan Indonesia Bersih, Indonesia Tertib, Indonesia Mandiri, Indonesia Bersatu,

Adapun kegiatan Gerakan Nasional Revolusi Mental yang dilaksanakan di Yayasan Darul Irfan kali ini akan lebih fokus ke gerakan indonesia mandiri berbentuk lima gerakan aksi nyata yaitu:
Keterampilan Tata busana, Tataboga, Penulisan Aksara Pegon, Kitab Kuning dan Seni Kaligrafi

Kelima kegiatan tersebut adalah bentuk pembekalan kepada santri, siswa agar memperoleh masa depan yang berjiwa mandiri. Mengingat kondisi  bangsa Indonesia yang saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan global, yaitu ; Pertama; Meningkatnya persaingan ekonomi antar negara semakin terbuka tanpa batas lintas negara, baik dalam wilayah regional ASEAN, wilayah ASIA maupun Global internasional. Kedua, Angka pengangguran yang semakin tinggi, baik tamatan SLTA maupun sarjana.  Ketiga, Meningkatnya kemajuan teknologi, Era digital dan pasar digital/online. Dimana jika para santri/siswa memiliki ketrampilan tersebut diatas kelak akan dapat menggapai masa depan karena telah memiliki ketrampilan dan jiwa kemandirian yang diajarkan di Yayasan Pondok Pesantren darul Irfan. Para santri/siswa akan survival dan siap bersaing dengan kemajuan zaman.

Demikian juga di sampaikan oleh ketua panitia bapak Suhatma, S.HI dan Kepala Madrasah Aliyah Darul Irfan bapak H. Chasan, M.Pd Pada dasarnya di pesantren untuk  menjadi manusia yang berintegritas, beretos kerja tinggi/ bekerja keras, dan punya semangat gotong-royong hal ini sudah di biasakan di Yayasan/Pesantren Darul Irfan ini.  Pada prinsipnya sebelum GNRM ini digalakan oleh pemerintah, di berbagai pesantren sudah berjalan dalam kehidupan sehari-hari para siswa dan santri di berbagai pondok pesantren.

Aktifitas sehari-hari, para santri/siswa di Yayasan Darul Irfan telah mempraktekan dan membiasakan hidup penuh kemandirian. Sejak tengah malam sudah biasa bangun solat tahajud, solat kiyamul lail, selanjutnya bangun  sebelum subuh, mandi, belajar mandiri, sholat berjamaah tanpa komando ada yang tugas adzan, menjadi imam sholat, pembaca doa dan petugas kultum dilanjut mengaji kitab kuning, mengaji Al Qur’an, hadist, fiqih dan seterusnya. Memasuki pagi hari para santri/siswa mandi, sarapan pagi, ada yang memasak sendiri, dan persiapan belajar di kelas ada di MTs, MA ada juga yang di Perguruan Tinggi , mereka belajar sampai jam 14.00 Wib. Setelah pulang belajar mereka istrihat sebentar sampai waktu sholat asyar tiba, dilanjut sholat berjamaah asyar. Habis sholat Asar ada yang ikut kegiatan belajar ekskul, pramuka, pencak silat dan tahsin baca Al -Quran, bimbingan khusus kitab kuning dengan para ustadz/guru pembimbing. Sebagian juga ada yang belajar mandiri, hingga saat magrib tiba. Menjelang maghrib mereka mandi, persiapan kembali mengikuti jemaaah sholat magrib, doa bersama, wiridan  dilanjut mengaji sesuai dengan jadwal pengajian hari itu dengan ustad/Kyai yang sudah terjadwal. Demikian selanjutnya jemaah sholat Isya dan dilanjut kegiatan mengaji sampai jam 22.00 Wib. Bahkan setelah jam tersebut masih ada yang menyelesaikan tugas /PR atau pun tugas lain yang belum selesai. Hal ini sudah menjadi rutinitas kemandiarian siswa/santri di Yayasan Pesantren Darul Irfan dan diberbagai pesantren lain. Jadi pada dasarnya watak/kebiasaan kemandirian santri/siswa di pesantren sudah tertanam secara terstruktur dan dibiasakan dengan teratur.

Selanjutnya Sahan Masduki, Chasan, dan Suhatma berharap dengan adanya kegitan Gerakan lima aksi nyata bekerja sama Kemenko PMK akan memiliki dampak positif dan menjadi perhatian khusus bagi para siswa/santri termasuk para ustadz pembimbing di yayasan Darul Irfan ini. Semua pengurus, siswa/santri disini akan merasakan langsung program yang dilaksakan oleh pemerintah melalui Kemenko PMK. Sebaliknya, pihak Kemenko PMK dapat mengetahui persis aktifitas dan  dinamika pesantren. Pada giliranya pesantren akan memahami bahwa gerakan revolusi mental memang akan lebih efektif jika digalakkan melalui lembaga/ pesantren.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *